SPPG Jatimulya Terindikasi Markup Nilai Anggaran MBG dan Menu Tidak Sesuai Standar Gizi, Pengawasan Dipertanyakan

Poto : Photo : Paket Menu MBG di SPPG Jatimulya yang Didistribusikan kepada para siswa SD di wilayah kerjanya. Photo : bukadata.com/Abdulah


Subang, Online_bukadata.com |•Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan terhadap siswa di sejumlah SD di wilayah kerja SPPG Jatimulya, kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, Jawa Barat, diduga mengalami persoalan serius. Minimnya pengawasan disinyalir membuka celah terjadinya pengurangan porsi makanan yang diterima siswa, bahkan memunculkan dugaan permainan harga pembelian bahan makanan, sehingga berimbas terhadap menu yang tidak sesuai standar gizi.


Temuan tersebut terjadi di sejumlah SD Desa Jatimulya, Sukadana dan Sukatani, kecamatan Compreng,Kabupaten Subang. 

Berdasarkan pantauan di lapangan sepekan terakhir, porsi makanan yang dibagikan kepada siswa dinilai kurang dari standar kelayakan gizi. Kondisi ini bahkan dinilai berpotensi menimbulkan “  potensi korupsi gizi”.


Hal itu diakui sejumlah orang tua/wali murid yang berhasil diwawancarai dan keberatan disebut identitasnya. “ Iya pak kami sangat kecewa , dengan penyajian menu tersebut, kami menduga ada pengurangan porsi, secara kasat mata pun terlihat hanya segitu,” ungkapnya. 


Dalam paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa, porsi nasi terlihat sangat sedikit. Lauk pauk pun minim, hanya satu potong tempe, satu butir telur yang dicetak bulat, serta irisan wortel dan engkol berjumlah sekitar tujuh potong kecil,buah semangka yang disajikan juga diiris tipis dan susu kotak satu buah.


Penjaga sekolah di sejumlah SD yang berhasil ditemui awak media membenarkan adanya menu MBG yang tidak dimakan oleh sebagian siswa. “Ada makanan yang ditinggalkan. Kalau dilihat dari porsinya, memang sangat kecil,” ujarnya saat dikonfirmasi.


Upaya konfirmasi kemudian dilakukan ke dapur MBG yang berlokasi di Dusun Tanjungsalep, Desa Jatimulya, Kecamatan Compreng via aplikasi WhatsApp (19/3) Pemilik usaha (Mitra) H Tatang enggan merespon.


Awak Media juga memperlihatkan dokumentasi foto menu MBG tersebut kepada salah seorang aktifis  LSM Trinusa Yadi,S.Fil untuk dimintai tanggapan. Melihat foto tersebut, yang bersangkutan menyatakan keprihatinannya. “Kalau seperti ini, keterlaluan,” katanya singkat.


Menurut Yadi, program Makan Bergizi Gratis sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah guna mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar. Namun temuan di lapangan ini menunjukkan perlunya pengawasan ketat dari instansi terkait agar pelaksanaan program tidak menyimpang dari tujuan awalnya.


Pihaknya menegaskan komitmennya bila kelak sudah menemukan fakta empiris dan yuridis di lapangan  terkait dapur SPPG yang tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan akan langsung melaporkan kepada BGN.Tandasnya.


Masih menurut Yadi dalam menjaga kualitas pelaksanaan program MBG melalui dapur SPPG, tentunya pihak Deputi bidang pemantauan dan pengawasan telah mengarahkan dan mengevaluasi terhadap pihak Pemerintah Daerah terkait standar operasioanl yang harus dijalankan dalam program tersebut dan sudah ada alur yang harus dilaksanakan di daerah.


Oleh karenanya pihaknya mendesak agar Pemkab Subang mengambil langkah tegas terhadap SPPG yang diketahui melakukan pengurangan porsi makanan yang diterima siswa, bahkan memunculkan dugaan permainan harga pembelian bahan makanan, sehingga berimbas terhadap menu yang tidak sesuai standar gizi. Tegasnya.


Terhadap Paguyuban dapur MBG Subang yang dikomandani H Aceng Kudus selaku Ketua DPC Gerindra Kabupaten Subang terus memperkuat konsolidasi dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Salah satunya melalui sinergi bersama Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Subang dan dinas terkait lainnya guna memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai regulasi yang ditentukan.


Kegiatan paguyuban dalam rangka konsolidasi dan kolaborasi setiap kebijakan program MBG yang telah ditetapkan BGN seperti terselenggara pada 2/3/2026 di BRIN Subang, jangan hanya bersifat serimonial tetapi implementasinya harus dilaksanakan nyata, agar seluruh mitra Dapur dapat menjalankan layanan sesuai petunjuk teknis (Juknis) dan memenuhi harapan masyarakat. Tandasnya.


Pihaknya menyampaikan testimony, ketika media demokratis.co.id memberitakan dan menginformasikan temuan lapangan, diduga melakukan penyimpangan program terjadi di sejumlah SPPG tertentu seperti SPPG Lembangsari dan SPPG Simpar yang menu paket MBG telur rebusnya sudah berupa anak ayam dengan pemberitaan berjudul “ Orang Tua Siswa SMK Umul Qur’an, Keluhkan Pembagian MBG Simpar-Cipunagara, Diduga Kurangi Porsi Anggaran dan Ditemukan Paket MBG Telur Berbentuk Anak Ayam”, 


Ketua Paguyuban dapur MBG H Aceng Kudus hanya merespon singkat (26/3)“ Siap Kang nuhun infona”. Hingga beberapa pekan ke depan menurut pantauan Media demokratis.co.id  tidak ada tindak lanjutnya terhadap SPPG yang bersangkutan.


Yadi menandaskan program MBG melalui SPPG bukan sekedar menyediakan makanan , tetapi harus memastikan kualitas gizi yang benar-benar manfaat bagi manyarakat khususnya anak-anak.

“ ini bukan sekedar bagi-bagi makan, tetapi memastikan asupan yang bergizi dan berkualitas,” ungkapnya.


Sementara itu, Deputi BGN menekankan pentingnya pengawasan menyeluruh terhadap operasioanl dapur, mulai dari kebersihan, kualitas makanan hingga distribusi, Pernyataan Deputi BGN itu seperti dilansir alexanews.id dalam kegiatan pengarahan dan evaluasi di Pemkab Karawang (1/4) yang dipimpin Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Dadang Hendrayuda. (Abdulah)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama