Tangis Haru Guru Bahasa Arab Ponpes Cipasung Pecah, Mimpi Umrah Bertahun-tahun Akhirnya Terwujud Berkat Kapolda Jabar


Poto : Kunjungan Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan ke kediaman pimpinan pesantren, KH Ubaidillah , Ponpes Cipasung Kabupaten Tasikmalaya, pada Jumat (27/2/2026). Foto : dok.Ist


Subang, Online-bukadata.com |• Suasana khidmat menyelimuti lingkungan Pesantren Cipasung, Jumat (27/2/2026) pagi.

Di tengah aktivitas belajar mengajar yang berjalan seperti biasa, tak ada yang menyangka akan lahir sebuah momen penuh haru yang membekas di hati banyak orang.


Kunjungan Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan ke kediaman pimpinan pesantren, KH Ubaidillah, awalnya berlangsung sebagaimana agenda silaturahmi pada umumnya.


Ia menyapa para pengurus, meninjau dapur umum santri, hingga berkeliling lingkungan pondok. Namun, di balik agenda resmi itu, tersimpan kejutan yang menggetarkan hati.


Meski rombongan sudah bersiap meninggalkan lokasi, Kapolda Jabar tersebut justru memutuskan singgah ke salah satu ruang kelas di lantai dua.


Dengan senyum hangat, ia membuka sapaan, “Assalamualaikum. Puasa semua ya?”


“Puasa,” jawab para santri serempak.

Ia pun berpesan agar para santri rajin belajar, taat kepada guru, dan tidak meninggalkan salat. Sederhana, namun penuh makna.


Satu per satu tangan kecil itu disalaminya, menghadirkan kehangatan yang jarang mereka rasakan secara langsung dari seorang perwira tinggi kepolisian.


Namun momen paling mengharukan terjadi ketika ia berbincang dengan seorang guru Bahasa Arab, De Ucu Nursaidah.


Di ruang kelas sederhana itu, tak ada panggung megah atau seremoni resmi. Hanya percakapan tulus yang kemudian berubah menjadi kabar tak terduga.


“Nanti berikan datanya ya, Bu,” ujar Rudi kepada bawahannya dikutip dari detik.com.


“Pak, ini saya naikkan umrah bersama suaminya,” tambahnya kepada pimpinan pesantren.


Sejenak suasana hening. Nursaidah terdiam, mencoba mencerna kalimat yang baru saja didengarnya. Saat menyadari bahwa ia benar-benar akan diberangkatkan umrah bersama sang suami, air mata pun tak terbendung.


“Alhamdulillah… Ya Allah Allahu Akbar, terima kasih bapak, terima kasih,” ucapnya lirih, dengan suara bergetar.


Tangis itu bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah akumulasi doa panjang yang selama ini dipendam dalam diam.


Nursaidah mengaku telah mendaftar haji sejak tahun 2020. Namun seperti jutaan umat Islam lainnya, ia harus bersabar menunggu panggilan yang entah kapan tiba, mengingat panjangnya antrean keberangkatan.


“Anugerah yang luar biasa bisa bertemu dengan Bapak Kapolda. Ini serasa mimpi, ya Allah,” tuturnya.


Bagi guru yang setiap hari membimbing siswa kelas 1 hingga 6 SD itu, kesempatan umrah menjadi oase penyejuk di tengah pengabdian panjangnya di dunia pendidikan pesantren.


Ia tak menyangka, di sela-sela rutinitas mengajar, Allah menghadirkan jalan yang begitu indah.


“Melalui Bapak Kapolda saya berkesempatan untuk berumrah dulu bersama suami. Semoga Allah memberi kebaikan bagi bapak, semoga ini menjadi wasilah kebermanfaatan dan ridho dari Allah SWT,” pungkasnya.


Di bulan suci Ramadhan yang sarat keberkahan, kisah haru di Pesantren Cipasung ini menjadi pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat menjelma menjadi kebahagiaan besar bagi orang lain.


Sebab di balik seragam dan jabatan, ada ruang kemanusiaan yang mampu menghadirkan air mata, bukan karena duka, melainkan karena doa yang akhirnya terjawab. (Abdulah)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama